Slow Entrepreneur

Chapter 4 dari 
man using smartphone smiling

Selama ini pembahasan mengenai slow living sering kali hanya dihubungkan dengan gaya hidup sehari-hari. Jarang yang membahas hubungan antara slow living dengan slow entrepreneur. 

Sebelum pembahasannya semakin jauh, sebenarnya mungkin nggak slow living diterapkan dalam dunia bisnis? Memangnya bisnis yang menerapkan slow living bisa sukses? 

Biar enak mungkin bagian ini kita bagi dua kali ya. Satu slow living sebagai pekerja dan satu lagi dalam bisnis. 

Slow Living sebagai Pekerja

man in white t-shirt sitting on bed

Oke, mari kita mulai dari yang pertama, slow living sebagai pekerja. Sama nih pertanyaannya, mungkin nggak sih manusia punya pekerjaan yang mendukung slow living

Memang ada ya kantor yang membuat jam kerja fleksibel untuk pekerjanya? Jawabannya adalah ada. Tentu ini tergantung bidang pekerjaanmu apa. 

Jadi, langkah pertama kalau kamu ingin menjadi pekerja yang tetap slow adalah, pilih pekerjaan yang sesuai. 

Saat ini sudah sangat banyak pilihan pekerjaan yang cukup fleksibel ya. Beda dengan zaman dulu yang belum banyak pilihan pekerjaan.

Saat ini, bekerja dari rumah sudah bukan sesuatu yang aneh lagi. Bekerja sambil dasteran atau sarungan nggak lagi sebuah mimpi. 

Kamu bisa pilih bekerja sebagai penulis buku, virtual assistant, virtual coach, konten creator atau yang lain. Kuncinya ya tadi, sesuaikan pekerjaanmu dengan gaya hidup yang kamu pilih. Memang harus ada pilihan yang dibuat. 

Slow Entrepreneur

a couple of people sitting at a table with a cup of coffee

Selanjutnya yang kedua, slow living dalam konteks bisnis atau disebut dengan slow entrepreneur. 

Konsep slow entrepreneur berakar dari pemilik bisnis yang berorientasi kepada kesejahteraan untuk semuanya. 

Slow entrepreneur dalam skala kecil bisa kamu lihat pada orang-orang yang bekerja secara mandiri. Petani dan peternak misalnya. 

Pagi-pagi sekali memanen telur ayam. Lalu panen sayuran untuk dikonsumsi sendiri atau dijual. Pada skala sedikit lebih besar, ditambah dengan memerah susu sapi dari peternakan mandiri. 

Selanjutnya menjual hasil ternak ke pasar terdekat. Pulang dari pasar berangkat ke ladang pertanian. Merawat tanaman, atau kalau sudah waktunya panen ya panen tanaman yang bisa dipanen. 

Agak siang, pulang ke rumah untuk istirahat. Terlihat nyaman ya. 

Selanjutnya slow entrepreneur dalam skala bisnis. Siapa tahu kamu ingin membangun bisnis dengan gaya slow living, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. 

Pertama, bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Salah satu caranya adalah dengan membuat strategi perencanaan pekerjaan yang lebih ringan. Strateginya ya yang ringan, bukan hasilnya. Bekerja lebih cerdas, bukan bekerja lebih keras, memungkinkan kamu mencapai tujuan lebih cepat dengan usaha yang lebih sedikit. Percaya deh, kesibukan tidak menghasilkan kesuksesan.

Kedua, istirahat itu juga produktif. Manusia bukan robot. Tubuhmu dibuat untuk menjalani siklus kerja, bermain, dan istirahat. Nggak cuma kerja aja. Jadi, istirahat di waktu yang tepat termasuk produktif juga.

Ketiga, kesehatan bukanlah pilihan. Kesehatan bukanlah pilihan. Nggak bisa diabaikan. 

Mengabaikan kesehatan fisik, mental, emosional, atau relasional akan mengganggu kemampuanmu untuk berkontribusi. Lebih dari itu, juga membahayakan integritas bisnis yang kamu bangun.

Keempat, manusia di atas uang. Uang memang penting, tapi orang yang lebih penting. Jadikan kesejahteraan pekerja sebagai prioritas utama perusahaan. Produktivitas dan keuntungan nggak boleh mengorbankan kesejahteraan pekerja.

Kelima, gunakan teknologi secara bertanggung jawab. Saat mendirikan bisnis, kamu butuh teknologi untuk mempercepat produktivitas. 

Namun, kamu juga nggak boleh lupa, bahwa teknologi nggak boleh mengorbankan kesejahteraan pekerja. Jangan sampai adanya teknologi membuat pekerja harus lembur non-stop. Pekerja adalah yang utama.

Wise Words

Slow entrepreneur mengutamakan kesejahteraan dan kesehatan. Bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras, dan menempatkan manusia di atas keuntungan.